PALEMBANG, 5 Oktober 2026 — Joe Rizqy Bayhaqiy, kader GMNI sekaligus Koordinator Politik BEM Universitas Sriwijaya Tahun 2026, menegaskan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan tidak boleh berhenti pada rapat, pernyataan, maupun janji penanganan semata.
Menurut Joe, karhutla merupakan persoalan serius yang menyangkut keselamatan masyarakat, lingkungan hidup, kesehatan publik, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.
Aksi mahasiswa, kata Joe, merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk menyuarakan keresahan masyarakat sekaligus mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil langkah konkret, terukur, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Dalam aksi tersebut, Joe menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kejelasan kebijakan penanganan karhutla, transparansi dalam penanggulangan dan penggunaan anggaran, kesiapan personel serta sarana dan prasarana, hingga keseriusan aparat penegak hukum dalam menindak pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya karhutla.
Joe menegaskan, aksi tersebut bukanlah akhir dari perjuangan mahasiswa. Setiap komitmen dan kebijakan yang disampaikan pemerintah akan terus dikawal dan dievaluasi.
“Kami datang bukan sekadar menyampaikan tuntutan, tetapi memastikan bahwa tuntutan tersebut benar-benar ditindaklanjuti. Karhutla adalah persoalan yang berulang, sehingga penyelesaiannya juga harus konkret dan berkelanjutan.”
Dalam merespons aspirasi mahasiswa, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan komitmennya terhadap penanganan karhutla. Ia menekankan pentingnya langkah nyata dalam mencegah dan menangani karhutla, termasuk penguatan koordinasi, kesiapsiagaan di lapangan, serta upaya pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu komitmen yang akan menjadi perhatian mahasiswa. Joe menegaskan bahwa komitmen pemerintah tidak boleh berhenti pada penyampaian aspirasi di ruang aksi, tetapi harus dibuktikan melalui kebijakan dan tindakan nyata di lapangan.
Joe juga menyatakan pihaknya akan terus membuka ruang pengawasan dan konsolidasi bersama berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat. Apabila tidak terdapat perubahan serta tindak lanjut nyata terhadap tuntutan yang telah disampaikan, pihaknya tidak menutup kemungkinan kembali turun ke jalan dengan konsolidasi dan aksi yang lebih besar.
“Kami akan mengawal apa yang telah disampaikan hari ini. Kami ingin melihat komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan tindakan nyata. Jika tidak ada perubahan, maka kami siap melakukan konsolidasi dan aksi yang lebih besar,” tegas Joe.
Menurut Joe, penyelesaian karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Namun, pemerintah dan aparat penegak hukum memiliki kewajiban utama untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan, lingkungan mendapat perhatian, serta hukum ditegakkan secara serius.
Karhutla, kata Joe, bukan persoalan yang boleh dinormalisasi setiap tahun. Asap dan dampaknya tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sementara tuntutan masyarakat tidak boleh berhenti tanpa tindak lanjut.
Joe menegaskan dirinya bersama elemen mahasiswa akan terus mengawal penanganan karhutla di Sumatera Selatan.
Jika tidak ada perubahan nyata, mahasiswa siap memperbesar gerakan.
HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT! LAWAN PEMBIARAN KARHUTLA!
(Jef)















