PALEMBANG – Ketua DPD GMNI Sumatera Selatan menegaskan bahwa semangat perjuangan yang terkandung dalam pledoi Indonesia Menggugat yang disampaikan oleh Bung Karno pada tahun 1930 masih sangat relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Menurutnya, Indonesia Menggugat bukan sekadar pembelaan Bung Karno di hadapan pengadilan kolonial Belanda, melainkan kritik mendasar terhadap sistem yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan terhadap rakyat. Dari pledoi tersebut, Bung Karno mengajarkan bahwa keberanian berpihak kepada rakyat dan melawan ketidakadilan merupakan tanggung jawab moral kaum pergerakan.
Dalam konteks Indonesia yang telah merdeka dan menganut sistem demokrasi, tantangan yang dihadapi bangsa memang berbeda dibandingkan masa kolonial. Namun, berbagai persoalan seperti ketimpangan ekonomi, praktik korupsi, dominasi oligarki, eksploitasi sumber daya alam, serta melemahnya akses masyarakat terhadap pelayanan publik yang berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Sebagai organisasi kader ideologis yang berlandaskan ajaran Marhaenisme, GMNI memandang bahwa semangat “menggugat” yang diwariskan Bung Karno harus dimaknai sebagai keberanian untuk menyampaikan kritik yang konstruktif terhadap setiap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara, melainkan wujud kecintaan kepada bangsa serta upaya menjaga demokrasi agar tetap berjalan sesuai cita-cita kemerdekaan.
Patriotisme aktivis pada era demokrasi saat ini tidak lagi diwujudkan melalui perjuangan mengangkat senjata melawan penjajah, melainkan melalui keberanian menjaga nilai-nilai demokrasi, mengawal konstitusi, memperjuangkan keadilan sosial, serta memastikan negara hadir untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia.
Oleh karena itu, GMNI Sumatera Selatan berpandangan bahwa aktivis harus tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual yang independen. Aktivis tidak boleh kehilangan daya kritis akibat kepentingan politik praktis maupun tarik-menarik kepentingan elite.
Gerakan mahasiswa harus tetap berpijak pada kepentingan rakyat, bukan menjadi alat legitimasi kekuasaan ataupun instrumen konflik antarkelompok.
Di tengah berbagai tantangan demokrasi saat ini, mulai dari polarisasi politik, penyebaran disinformasi, hingga kecenderungan pragmatisme dalam kehidupan publik, semangat Indonesia Menggugat menjadi pengingat bahwa perjuangan harus dilandasi keberanian moral, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Ketua DPD GMNI Sumatera Selatan menegaskan bahwa cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa dan generasi muda, terus menjaga tradisi berpikir kritis serta mengawal jalannya demokrasi.
“Patriotisme hari ini bukanlah membenarkan seluruh tindakan penguasa, melainkan keberanian untuk mengoreksi arah bangsa ketika menyimpang dari amanat konstitusi dan cita-cita kemerdekaan. Sebagaimana Bung Karno menggugat kolonialisme karena kecintaannya kepada Indonesia, maka aktivis hari ini harus berani mengkritik setiap bentuk ketidakadilan demi menjaga masa depan bangsa,” tegas Ketua DPD GMNI Sumatera Selatan.
(*/Jefri)















