Operasional Dapur MBG Libur Ikuti Aturan BGN, Relawan SPPG Sampaikan Aspirasi dan Harapan

PANDEGLANG, Globalmediatama.com,– Pagi-pagi yang biasanya dipenuhi kesibukan kini berubah menjadi keheningan. Kompor yang setiap hari menyala untuk memasak makanan bergizi kini padam. Panci-panci tersusun rapi tanpa digunakan. Meja persiapan yang dahulu dipenuhi bahan pangan kini tampak lengang.

Bagi masyarakat, libur sekolah mungkin hanya berarti berhentinya aktivitas belajar mengajar. Namun bagi para relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Pandeglang, libur sekolah juga berarti berhentinya sementara pengabdian yang selama ini mereka jalani dengan penuh keikhlasan.

Operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara mengikuti kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 tentang Pelayanan MBG Selama Periode Hari Libur. Dalam edaran tersebut ditegaskan bahwa pelayanan MBG tidak dilaksanakan selama libur sekolah, hari libur nasional, hari libur keagamaan, hari libur khusus yang ditetapkan pemerintah daerah, serta setiap hari Sabtu dan Minggu.

Kebijakan tersebut berlaku bagi peserta didik maupun kelompok penerima manfaat nonpeserta didik. Selama masa libur, operasional pelayanan dihentikan, sementara pengamanan aset dan fasilitas SPPG tetap dilaksanakan oleh petugas keamanan secara bergiliran. Selain itu, insentif operasional SPPG juga tidak diberikan selama periode hari libur sebagai bagian dari penyesuaian operasional program.

 

Berberapa Relawan SPPG di Kabupaten Pandeglang, menyatakan menghormati dan mematuhi kebijakan tersebut. Mereka memahami bahwa aturan dibuat sebagai bagian dari tata kelola Program Makan Bergizi Gratis secara nasional. Namun, di balik kepatuhan itu tersimpan kisah yang tidak banyak diketahui.

Banyak relawan mengaku merindukan suasana dapur yang setiap hari menjadi tempat mereka mengabdi. Mereka terbiasa datang sejak dini hari, menyiapkan bahan makanan, memasak, mengemas, hingga memastikan makanan bergizi dapat diterima para penerima manfaat dengan baik.

“Kami bukan hanya kehilangan rutinitas, tetapi juga kehilangan ruang untuk berbuat manfaat setiap pagi,” ungkap salah seorang relawan.

Sebagian relawan juga mengaku bahwa penghentian operasional sementara berdampak pada kondisi ekonomi keluarga. Bagi mereka, insentif yang diterima selama bertugas menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, maupun kebutuhan rumah tangga.

Meski demikian, para relawan menegaskan bahwa curahan hati tersebut bukan bentuk penolakan terhadap kebijakan BGN.

Sebaliknya, mereka berharap suara para relawan yang selama ini bekerja di balik layar juga dapat menjadi perhatian dalam penyempurnaan kebijakan ke depan.

Harapan mereka sederhana: adanya kepastian informasi yang lebih awal mengenai jadwal operasional, komunikasi yang semakin baik, serta perhatian terhadap keberlangsungan para relawan ketika operasional dihentikan sementara.

“Kami tidak meminta untuk melawan aturan. Kami hanya berharap pengabdian yang kami berikan juga diiringi perhatian. Sebab di balik setiap porsi makanan bergizi yang tersaji, ada tenaga, waktu, doa, dan harapan yang kami persembahkan dengan tulus.”

Para relawan juga berharap Program Makan Bergizi Gratis terus berkembang dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat. Mereka siap kembali bertugas kapan pun operasional dibuka kembali sesuai ketentuan BGN.

 

Hari ini dapur memang sunyi. Namun semangat pengabdian para relawan SPPG Pandeglang tidak ikut padam.

Mereka percaya, setiap pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal kebaikan. Dan mereka yakin, setelah masa jeda ini berakhir, dapur-dapur MBG akan kembali menyala, menghadirkan harapan baru bagi anak-anak Indonesia, sementara para relawan kembali menjalankan tugas dengan hati yang tulus demi mensukseskan Program Makan Bergizi Gratis.

 

Curahan Hati Beberapa Relawan MBG

Penulis : Redaksi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *