Skandal Mafia Minyak Muba: Sekjen GPP Sumsel ‘Didepak’ dari Grup Aktivis Usai Bongkar Borok Illegal Drilling di Lahan PT Agrinas

MUBA, SUMSEL – Globalmediatama.com – Tabir gelap praktik illegal drilling (pengeboran minyak ilegal) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mulai memicu keretakan di lingkaran aktivis Sumatera Selatan. Fitro, Sekretaris Jenderal Gabungan Pemuda Peduli (GPP) Sumsel, secara mengejutkan “ditendang” dari grup koordinasi WhatsApp oleh Arianto, Ketua LSM Gempita Sumsel, sesaat setelah vokal menyuarakan perusakan hutan di wilayah Tungkal Jaya.

Tindakan “pemecatan digital” ini diduga kuat merupakan buntut dari kegerahan oknum-oknum yang merasa “piring nasinya” terancam oleh investigasi GPP Sumsel.

Intimidasi dan ‘Backing’ Oknum Ormas
Konflik memanas pasca Fitro menyebarkan rilis investigasi berjudul: “Darurat Hutan Muba! GPP Sumsel Nyatakan Perang: Cabut Izin PT Agrinas, Tangkap Mafia Minyak Berkedok Oknum Ormas”. Bukannya mendapat solidaritas, Fitro justru diteror oleh Orang Tak Dikenal (OTK) melalui pesan singkat.

“Saya diperingatkan untuk tidak mengurusi urusan orang lain. Ini jelas upaya pembungkaman sistematis terhadap gerakan lingkungan di Muba,” tegas Fitro. “Pengeluaran saya dari grup WA oleh Ketua LSM Gempita semakin mempertegas siapa kawan dan siapa yang menjadi ‘pelayan’ kepentingan mafia.”

PT Agrinas: Dari Konsesi Sawit Jadi ‘Sarang Penyamun’ Minyak
GPP Sumsel menuding PT Agrinas telah lalai dan melakukan pembiaran masif. Kawasan hutan yang semestinya menjadi lahan perkebunan kini hancur lebur menjadi lautan lumpur hitam akibat pengeboran ilegal yang diduga dibekingi oleh oknum ormas berinisial “Y”.

“Kami tidak main-main. PT Agrinas telah melanggar izin prinsip. Hutan Muba dirampok secara telanjang di depan mata aparat. Kami mendesak Kementerian LHK segera MENCABUT IZIN PT Agrinas tanpa kompromi!” lanjut Fitro.

Tantangan Nyali untuk Polsek Tungkal Jaya dan Satgas PKH
Fitro juga melayangkan kritik pedas kepada aparat penegak hukum setempat yang dinilai hanya menjadi “penonton setia” kerusakan lingkungan. Ia mempertanyakan keberanian Polsek Tungkal Jaya dalam menindak aktor intelektual di balik sumur-sumur ilegal tersebut.

“Rakyat sudah muak dengan ‘himbauan’ yang hanya jadi macan kertas. Jika polisi tidak berani menembak mati praktik ilegal di lahan PT Agrinas, patut diduga ada oknum aparat yang ikut mencicipi ‘kue’ minyak tersebut. Jangan biarkan kondusivitas semu jadi alasan memelihara kejahatan lingkungan!”

Ultimatum: Sikat Habis atau Rakyat Kepung Kantor Terkait
GPP Sumsel memberikan peringatan terakhir kepada otoritas terkait. Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata berupa penghentian total aktivitas di lokasi PT Agrinas dan penangkapan pelaku, massa akan dikerahkan untuk turun ke jalan.

“Hutan Muba adalah warisan anak cucu, bukan mesin ATM bagi oknum Ormas dan perusahaan nakal. Pilihannya hanya dua: sikat habis mafia minyak itu, atau biarkan rakyat yang bertindak mengepung kantor kalian!” pungkasnya.

(*/Jf & Tim7)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *